Beranda | Artikel
Belajar Bersyukur
Minggu, 9 April 2023

Bismillah.

Saudaraku yang dirahmati Allah, datangnya bulan Ramadan merupakan nikmat besar yang wajib kita syukuri. Pada bulan inilah kewajiban puasa ditunaikan oleh kaum muslimin. Walaupun menahan lapar dan haus sejak pagi hingga terbenam matahari bukanlah perkara yang disukai oleh hawa nafsu.

Hal ini tentu menyimpan pelajaran penting bagi manusia, bahwa seringkali kebaikan itu Allah berikan melalui pintu perkara-perkara yang sekilas tidak enak dan tidak menyenangkan. Sebagaimana telah diingatkan di dalam Al-Qur’an bahwa bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian. Begitu pula sebaliknya, kalian menyukai sesuatu, tetapi justru itu buruk untuk kalian.

Hal ini semakin memperkuat keimanan kita tentang betapa sempurna ilmu Allah dan betapa luas hikmah serta rahmat-Nya. Sebagaimana telah disebutkan dalam hadis sahih bahwa Allah jauh lebih penyayang kepada hamba daripada kasih sayang ibu kepada anaknya.

Bulan Ramadan ini begitu istimewa bagi kaum beriman. Mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas untuk meraup pahala sebanyak-banyaknya. Mereka sangat mengharap ampunan Allah atas dosa-dosanya. Mereka pun khawatir dan takut akan azab-Nya. Mereka pun berusaha melakukan apa-apa yang Allah perintahkan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dalam keadaan beriman dan mencari pahala, niscaya dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa untuk meraih ampunan itu, amal puasa harus disertai dengan iman dan ihtisab (niat mencari pahala dari Allah).

Oleh sebab itu, berpuasa bukanlah semata-mata menahan haus dan lapar. Lebih daripada itu, ia membutuhkan kekuatan iman dan pemahaman yang benar dalam beragama. Para ulama menjelaskan bahwa ilmu merupakan syarat diterimanya amal, sebab ilmu itulah yang akan meluruskan niat seseorang di dalam beramal kebaikan.

BACA JUGA: Kombinasi Zikir dan Syukur

Sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Barangsiapa yang melakukan amal tanpa ilmu, maka apa-apa yang dia rusak justru lebih banyak daripada apa-apa yang dia perbaiki.” Artinya, jika kita ingin menunaikan kewajiban ibadah puasa ini dengan benar, maka kita tidak boleh bosan belajar tentang tuntunan berpuasa.

Betapa banyak orang yang mengerjakan suatu amalan dan dia mengira bahwa amalnya itu mendekatkan dirinya kepada Allah, tetapi sesungguhnya menjauhkan dia dari Allah. Di antara sebabnya adalah karena beramal mengikuti hawa nafsu dan tidak mengikuti dalil.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

Dari situ kita pun mengerti bahwa ibadah kepada Allah tidak boleh hanya berdasarkan perasaan atau logika. Ibadah itu dibangun dengan wahyu.

Seperti itulah cara beragama para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Maka, berbicara tentang keutamaan ibadah puasa, wajibnya puasa Ramadan tidak bisa lepas dari pondasi iman, tauhid, dan manhaj (metode beragama).

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidaklah menjadi mulia dan dicintai Allah, kecuali karena kejujuran iman dan kesetiaan mereka kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh sebab itu, para ulama menegaskan bahwa amal-amal itu memiliki keutamaan yang bertingkat-tingkat disebabkan apa-apa yang tersimpan di dalam hati berupa iman, keikhlasan, dan tauhid.

Mensyukuri nikmat Allah berupa datangnya bulan Ramadan ini tentu tidak cukup dengan spanduk ucapan “Selamat Ramadan” atau yang semacam itu. Akan tetapi, butuh kesadaran hati tentang agungnya kewajiban ini, memuji Allah, dan berusaha menjaga ibadah puasa dari segala perusaknya.

Ada ibadah-ibadah hati yang perlu kita benahi di dalam ibadah puasa ini. Di antaranya rasa cinta kepada Allah, takut kepada-Nya, berharap kepada Allah, dan bertawakal kepada Allah semata. Karena kita tidak mungkin bisa berpuasa, kecuali dengan pertolongan Allah.

Bahkan, dalam ibadah puasa itu pun pada hakikatnya tersimpan ibadah hati yang sangat penting, yaitu keikhlasan. Ikhlas itulah yang membuat amal yang kecil menjadi besar. Di dalam puasa juga terkandung kesabaran.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Adalah suatu hal yang telah disepakati di antara para sahabat, tabi’in, ulama sesudah mereka, dan para ulama yang kami jumpai bahwasanya iman terdiri dari ucapan, amalan, dan niat. Salah satu saja tidak sah apabila tidak dibarengi oleh bagian yang lainnya.” (lihat Aqwal At-Tabi’in fi Masa’il At-Tauhid wa Al-Iman, hal. 1145)

BACA JUGA: Mengapa Aku Sulit Bersyukur?

Al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “Para sahabat dan tabi’in serta orang-orang sesudah mereka dari kalangan para ulama Sunnah telah bersepakat bahwa amal adalah bagian dari iman. Mereka mengatakan bahwa iman adalah ucapan, amalan, dan akidah (keyakinan).” (lihat Aqwal At-Tabi’in fi Masa’il At-Tauhid wa Al-Iman, hal. 1145)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Setiap amalan yang tidak ikhlas dan tidak berada di atas ajaran syari’at yang diridai (Allah), maka itu adalah batil (sia-sia).” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 103)

Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Tidak akan diterima ucapan, kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan, kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat, kecuali apabila bersesuaian dengan As-Sunnah.” (lihat Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar, hal. 77 cet. Dar Al-Mujtama’)

Ibadah tidak akan diterima apabila tercampur dengan kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu. Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Ibadah juga tidak akan diterima jika tidak dilandasi dengan iman. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa yang kufur kepada iman, maka sungguh terhapus semua amalnya, dan di akhirat nanti dia akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Ma’idah: 5)

Dan cukuplah seorang disebut tidak beriman (kafir), meskipun dia hanya mengingkari salah satu rukun iman. Sebagaimana yang terjadi di masa Ibnu ‘Umar radhiyallahu ’anhuma. Ketika itu ada sebagian orang yang mengingkari takdir. Mereka biasa dikenal dengan sekte Qadariyah. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ’anhuma berkata, “Seandainya salah seorang di antara mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian dia infakkan, maka Allah tidak akan menerimanya dari mereka sampai mereka beriman kepada takdir.”

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ditanya tentang orang-orang yang bertakwa. Beliau pun menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang menjaga diri dari kemusyrikan dan peribadahan kepada berhala, serta mengikhlaskan ibadah mereka untuk Allah semata.” (lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, hal. 211)

Ketakwaan hati (yaitu yang berporos pada keikhlasan) inilah yang menjadi sebab utama keselamatan. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan api neraka kepada orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas karena ingin mencari wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu ’anhu)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka, barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah, sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik bertentangan dengan Islam. Oleh sebab itulah, pokok ajaran Islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَن یَبۡتَغِ غَیۡرَ ٱلۡإِسۡلَـٰمِ دِینࣰا فَلَن یُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ

Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)

Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)

Semoga Allah beri taufik kepada kita untuk mensyukuri nikmat datangnya bulan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya. Allah Yang menguasai hal itu dan Al-Qadir/Yang Mahamampu atasnya.

BACA JUGA: Bentuk Syukur yang Sering Dilupakan Manusia

***

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.


Artikel asli: https://muslim.or.id/84204-belajar-bersyukur.html